Merunut jejak pencatatan marga — dari Radermacher (1781) hingga kajian kontemporer.
245 TAHUN PENCATATAN · 20+ PENULIS · 3 TITIK KRUSIAL
"Tarombo bukan teks tunggal yang diwariskan tanpa perubahan."
Ia adalah endapan dari proses pencatatan yang panjang dan berlapis — sebagian besar mulanya ditulis oleh tangan yang bukan orang Batak sendiri.
Catatan tertulis paling awal soal marga Batak — Boetar, Lontung, Siregar, dan wilayah Simamora hingga ke Pakpak dan Alas.
The History of Sumatra melengkapi dari sumber Inggris — distrik Ankola, Mandailing, Toba, Silindung, Singkel.
Buku pertama yang luas soal asal-usul marga — jujur mencantumkan versi yang berbeda-beda tanpa menghakimi.
Menunda terbit demi buku Hutagalung; memetakan marga dari sudut hukum adat & pertanahan.
Menguraikan hukum adat di balik penyebaran marga — banyak memakai data Hutagalung.
Tiga buku ini saling terjalin: saling melengkapi, sekaligus saling mengoreksi.
"Marga bukan fakta genealogis yang beku — ia realitas sosial yang hidup."
Perlakukan setiap sumber — penjelajah Eropa dua abad lalu maupun sarjana Batak masa kini — sebagai satu suara dalam percakapan yang masih berlangsung, paling baik dibaca berdampingan, bukan berdiri sendiri-sendiri.
Ringkasan ini disarikan dari esai historiografis lengkap — 30 catatan kaki, 28 rujukan, dari Radermacher (1781) hingga Situmorang (2009).