Oleh: Karles H. Sinaga
Mengurai posisi adat, silsilah, dan membedah empat versi legenda persinggungan marga-marga besar.
Kisah ini mengurai kekerabatan antara Raja Lontung, Raja Sumba II, Simamora, dan Sihombing. Selama bertahun-tahun, tradisi lisan dan ingatan kolektif menghasilkan beberapa versi yang saling bersinggungan.
Legenda bermula dari keluarga besar Sibagot Ni Pohan yang berpisah dan menyebar. Dalam tradisi Batak, hubungan mertua-menantu sering diikat oleh pemberian tanah sakral yang disebut Pauseang.
Perpindahan wilayah dan konflik internal keluarga menjadi latar bagi pertanyaan besar: siapa sebenarnya boru Ompu Lontung, dan bagaimana posisi Simamora serta Sihombing di hadapannya?
Raja Lontung adalah mertua langsung Raja Sumba II. Tanah yang ditempati keturunan Sumba adalah warisan/Pauseang dari Lontung.
Ompu Lontung memiliki dua putri: Boru tua menikah dengan Sihombing, boru muda dengan Simamora.
Boru Lontung menikah lebih dahulu dengan Sihombing, kemudian (setelahnya) menikah dengan Simamora.
Terjadi pernikahan silang antar keturunan Sihombing dan garis tua Lontung yang awalnya dinikahi Simamora.
Simamora adalah anak tertua Raja Sumba II, sementara Sihombing lebih muda.
Dalam acara Lontung, Sihombing justru dipanggil/dimanggora lebih dahulu dibanding Simamora.
Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar: mengapa si bungsu dipanggil lebih dulu?
Prioritas panggilan adat bagi Sihombing kemungkinan besar dipicu oleh peran militer/pembela. Saat kaum Sumba menyerang tanah Lontung, Sihombing tampil sebagai Amangboru yang membela Lontung.
Alternatif: Ada kemungkinan tradisi penggantian suami (Sihombing suami pertama) memengaruhi urutan panggilan meskipun Simamora lebih tua secara kelahiran.
Terdapat tiga buah di Tipang Bakkara, diyakini sebagai pemberian Ompu Lontung kepada menantunya.
Keterangan Thompson Hutasoit dan ingatan kolektif keluarga menjadi rujukan utama pendukung Versi 1.
Penulis cenderung mengamini Versi Pertama.
Raja Lontung adalah mertua Raja Sumba II, dibuktikan dengan keberadaan Batu Pauseang. Perbedaan panggilan adat Sihombing dipengaruhi peran historisnya sebagai pembela Lontung atau dinamika suksesi pernikahan.
Sejarah keluarga, adat, dan politik lokal saling terikat dalam harmoni tradisi lisan.