Oleh: Karles H. Sinaga
Sejarah Batak kuno penuh mitos, tetapi di baliknya ada perebutan hegemoni, taktik militer, dan diplomasi pernikahan antar klan besar.
Mewakili kekuatan dominan lama. Dalam pembagian peran (adakah sepihak?), Lontung difokuskan mengurus hukum adat dan ilmu pengetahuan tradisional (spiritual/kebatinan).
Lahir sebagai pemimpin teokratis baru (Raja Manghuntal). Menantang dominasi Lontung dengan memegang mandat spiritual tertinggi sekaligus pemerintahan.
(Sinaga) Bertindak sebagai pemimpin konfederasi Lontung.
(Limbong) Peran krusial sebagai penyeimbang otonomi klan.
(Sinambela) Kekuatan baru dengan konsep kepemimpinan spiritual-politik.
Lahirnya Sisingamangaraja dipengaruhi oleh strategi Aceh di kawasan tersebut.
Raja Manghuntal punya hubungan darah dengan klan Borbor, sehingga statusnya secara politik terkait erat dengan Lontung, memicu dinamika dukungan sekaligus persaingan.
Klan Sumba menguatkan posisi lewat pernikahan strategis dengan tokoh Lontung.
Dari pernikahan Raja Manghuntal dengan Sinaolo br. Situmorang lahir Buha Baju, yang menjadi simbol penyatuan kekuatan Lontung dan Sumba.
Raja Manghuntal mengklaim mandat ilahi, memicu perang besar. Ia membawa gajah putih sebagai senjata.
Namun, Ompu Palti Raja berhasil menumbangkannya dengan taktik parit jebakan dan kerbau bertanduk racun. Peristiwa ini melahirkan gelar epik bagi Palti Raja.
Perang menimbulkan kutuk: keturunan tidak punya anak perempuan.
Selama tujuh generasi berturut-turut menanggung beban kutuk tersebut.
Kutuk terputus lewat serangkaian aliansi perkawinan politik.
Sisingamangaraja XI membayar utang darah, mengakhiri perseteruan.